Beberapa bulan menjelang masa pensiunnya, Bapak mulai sibuk sendiri. Mempersiapkan dan mencari aktifitas baru yang sekiranya bisa terus mengembangkan potensi. Bukan lagi jadi tukang servis elektronik, potografer keliling, atau yang pernah dilakukan sebelumnya. Tiba-tiba bapak jadi makelar mobil. dan ada yang membuatku angkat topi dengan pekerjaan barunya itu. Apakah itu?
Yap, sekitar 2 minggu lalu Carry merah kesayangannya telah dijual ke warga desa sebelah. kemudian berganti espass abu-abu. Tak ada seminggu mobil itu telah berpindah tangan dan berganti merek sama warna ijo metalik.
Setiap kali memindahtangankan mobilnya ke orang lain, Bapak selalu menyebutkan harga ASLI ketika dibeli. Lantas meminta kesediaan calon pembeli untuk menambah lagi beberapa rupiah untuk biaya transportasi, perawatan, balik nama, dan lain sebagainya. Jika calon pembeli setuju maka mobil itu akan dilepas dan jika tidak, bapak tidak memaksa. Bahkan menyarankan untuk mencari di tempat lain.
Jaman segini susah nyari pedagang yang mau jujur. Yang sering kuketahui, harga barang asli langsung dinaikkan. Jika ada yang menawar, dibilangnya belum balik modal (padahal udah). Sering pula pebisnis tak punya etika. Saling sikut antar saingan. Persaingan tak sehat sepertinya sudah jadi hal lumrah. Bukan di kalangan orang awam aja lo. Yang mengaku berjuang di dunia dakwah, yang selalu mengacu pada Quran dan Hadist juga banyak yang tak memperhatikan etika. Yang kudengar barusan (beberapa menit lalu ni) malah ada yang jadi plagiat, mencuri ide, menyerobot klien orang lain, mematikan usaha saudara(katannya) seimannnya. Ustad..ustad..emang seperti itu ya seharusnya jadi panutan? (Ups ngawur kemana-mana)
Bukan maksudku sombong dengan membangga-banggakan Bapakku. Tapi terus terang aku bangga sebagai anaknya. Banyak ajaran moral yang seringkali erat kaitannya dengan Quran Hadist bisa kuambil darinya meski ia bukan ulama, bukan pula seorang ustadz ahli dakwah. Bahkan boleh dibilang 'abangan'.
Dan lagi-lagi, hari ini, Bapak punya stok mobil lagi untuk dijual. Carry lagi. Entah mana lagi yang akan dilepas. Hmm..pantas saja kakak iparku pengen gabung bisnis.
3.31.2009
Kerjaan Baru Bapakku vs Pebisnis Tak Beretika
3.30.2009
De' Rin Bilang Aku Bodoh
Pernah suatu ketika de' Rin bilang aku bodoh. Bahkan oon seperti oneng. Sebab ia pernah mendengar cerita tentangku yang seringkali disukai lelaki tapi tak pernah sadar sebelum ada yang bilang, sering dimanfaatkan orang lain tapi tak pernah curiga, dipecundangi dan disakiti teman sendiri tapi tetap berbaik sangka(apa benar aku sebaik itu?)
Aku hanya bisa tersenyum mendengarnya. Mau bagaimana lagi? Tiap orang berhak berpendapat kan? Aku juga bisa maklum dia bicara seperti itu. Tak kaget lagi malah. Bukan de' Rin saja yang bilang seperti itu.
De'Rin, aku tak ingin ke-GR-an duluan sebelum orang yang menyukaiku bilang langsung. Bukannya lebih 'gentle' jika langung ngomong daripada disimpan mulu seperti pengecut? Lagipula lelaki susah juga dimengerti (seperti kebalikannya). Kita pakai cara kasar, mereka sakit hati. Pakai yang halus, mereka nggak ngerti-ngerti juga. cpd!
Dan aku selalu ingin menjadi teman yang baik meski terkadang seringkali merasa ditampar. Berusaha memahami dan menyenangkan orang lain boleh saja kan?
Sampai sekarang ternyata aku masih saja bodoh seperti katamu, de'..
3.24.2009
Semua Buatmu, Mama
Dua hari sebelum nyepi tiba. Ramai betul ternyata. Orang-orang pada pulang kampung. Menghindari gelap.
Penjualan tiket bus tak luput dari keramaian tersebut. Banyak penyedia layanan angkutan darat itu yang akhirnya menambah jumlah armadanya untuk mengimbangi jumlah permintaan.
Meski sudah ditambah, masih saja aku kesulitan mencari tiket Denpasar-Blitar. Ke tempat langganan, dapat seat paling belakang, dekat toilet. Yo emoh aku. Emang enak perjalanan panjang sambil menghirup udara segar khas to'il?
Lalu pergi ke tempat lain. Ada sih. Tapi (ada tapinya ni) seat paling depan. Tempat orang lewat-lewat. Menyebalkan nggak sih. Mau nggak mau kuambil juga. Daripada naik bus jurusan malang trus pindah bis lagi. Biasanya sih asik-asik aja. Banyak tantangan. Bisa ngobrol sama tu preman-preman terminal. Cuma sekarang lagi malas nanggapi tantangan.
Ah, Mama, ini anakmu datang. Jangan sakit lagi ya.
3.23.2009
Mengejar Kupu-kupu

Dear Vic,
Tiba-tiba saja aku menemukan sesosok yang sangat mirip denganmu. Caranya tersenyum, menatap, hingga gaya berpakaiannya mengingatkanku padamu. Terlebih waktu itu ia memakai warna kesukaanmu, biru.
Hampir setahun kau menghilang ya, Vic. Sungguh tega. Setelah kau beri impian indah tentang langit biru nan luas. Tanpa pesan pula kau pergi begitu saja. Hilang sudah semua impian itu. Bahkan biduk, yang rencananya akan kita tumpangi bersama, terombang-ambing sendirian, hampir karam seluruhnya.
Susah payah kucari keberadaanmu. Nihil. Cuma hampa yang kudapat. Angin mengabarkan bahwa kau tak mau sekedar menitip salam melaluinya. Aroma tubuhmu pun enggan kau berikan hingga sang bayu bisa menghembuskannya padaku. Kau menghindar, menghilang dari pandanganku.
Dan susah payah pula kucoba melupakanmu. Berat memang bagiku. Melupakan semua yang pernah kita alami bersama. Tapi inilah hidup. Kenyataan yang telah kau pilihkan untukku. Kuhargai keputusanmu. Sesakit apapun akan kujalani jika itu bisa membuatmu bahagia. Yah..meskipun aku sempat berpikiran sempit pada awalnya. Manusiawi kupikir.
Lantas aku menemukannya. Hampir setahun semenjak punggungmu menjauh pergi. Pertemuan yang tak pernah disengaja. Tak pula kuduga sebelumnya. Tanpa kata ia menyapa. Seulas senyum ia tawarkan. Lidahku kelu. Tersisa bahasa beku. Senyum itu…mirip senyumanmu, Vic. Pun sorot matanya seperti milikmu.
Pesonanya membiusku. Membawaku kembali menembus kenangan bersamamu yang sengaja kukubur tanpa nisan hingga ku tak dapat petunjuk untuk menggalinya kembali. Kecamuk perasaan membelit dadaku. Antara seruak bahagia sekaligus sesak dan sakit teringat tentangmu.
Ah, Vic, semua tentangnya mengingatkanku padamu. Nama depan dan panggilannya persis namamu. Ketika obrolan berlanjut lebih dalam, kuketahui bahwa ia juga berasal dari daerah yang sama denganmu. Pemikirannya sama bebas seperti yang selalu kau bagi padaku. Hanya saja ia bukan dirimu. Usianya baru dua puluh lima tahun. Sementara kau dua tahun di atasnya.
Seperti mengejar kupu-kupu, mataku tak bisa lepas darinya. Takut kehilangan kepak sayap pelanginya. Ingin kutangkap dan kuletakkan dalam genggaman. Namun khawatir membuat sisik indahnya jatuh berhamburan ke tanah basah.
Akhirnya kuikuti saja kemana ia kepakkan sayap. Melihatnya berayun dari satu bunga ke bunga lain, dari satu dahan dan daun ke tempat yang lainnya. Tak akan pernah kulepaskan ia dari penglihatanku. Tak akan kupaksa untuk menangkapnya. Dan akan kutunggu hingga ia mau hinggap sendiri di telapak tangganku sehingga aku bisa lebih puas mengagumi keindahannya.
Vic, saat bersamanya, tersadar aku harus melarung semua tentangmu ke laut lepas. Biarlah semua hilang tertelan ombak. Kembali aku harus menyusun serpih retak hati yang semula sempat terbawa angin. Tak akan kupedulikan lagi betapa sulitnya mencari dan menyusun kembali repihan itu. Tak akan pernah sama memang. Barangkali tak akan sempurna lagi bentuknya. Namun aku tak peduli. Sebab ia telah memberiku isyarat untuk menyusuri pantai dan melawan arus ombak bersama.
3.21.2009
Halo HATI! Kali Ini Aku Menang Lagi
Orderan datang. Senang memang. Bisa dapat duit, tak lagi makan irit. Tapi apa yang akan kamu lakukan jika orderan itu datang dari orang yang bikin kamu nggak simpati, bikin sakit hati malah?
hayoo! Bingung juga kan? Itu baru perumpamaan kalau seandainya kamu yang ngalami sendiri lo. Kalau benar-benar kejadian gimana? Walah dalah badah, puyeng!
Meski demikian kuterima saja lah. Pintar-pintar memanipulasi hati supaya tak bergejolak. Bukan masalah uang yang ntar bakal di dapat. Melainkan memberi bukti, tuk diri sendiri, bahwa aku (masih) bisa bersikap profesional. Ya walaupun harus menekan segala rasa tak enak hati.
Dan akhirnya ku dapat melewati itu semua. Kerjaan beres! Halo HATI! Kali ini aku menang lagi!
3.20.2009
Kubilang Aku Mencintaimu
kubilang aku mencintaimu
mana buktinya?
kubilang kaulah satu
apa buktinya?
kubilang kaulah segalanya
mana buktinya?
mana??!
mulut pendusta!
lidah pendosa!
pengkhianat cinta!
tersungkur di sudut dengkur
ketika fajar terbentur
langit koyak
mentari terbeliak
berdarah……………..
terlempar di ujung memar
ketika senja terbakar
angin berteriak
malam berontak
dingin menggigil…
menekur
terpekur
menanti sua yang tak akan jua tiba
cinta tertolak
tak berani tunjukkan muka
menunduk
tertunduk
mengharap jumpa yang batal terlaksana
cinta tercemar
tinggalkan memar
terkulai
di jalanan gontai
terkapar tanpa binar…
runtuki diri
pengkhianat!!
keparat….!!
Amoral yang Membudaya
Seseorang pernah merasa kaget dengan situasi di tempat kerjanya pada bulan pertama ia bekerja di sebuah kantor advokad ternama. Ia tidak pernah membayangkan akan masuk di dunia kerja dimana putih bisa menjadi hitam atau sebaliknya. Bahkan samar, menjadi abu-abu.
Ia melihat kenyataan bahwa di dunia hukum tersebut, para praktisinya, yang ia lihat tentu saja, melakukan praktek-praktek yang sebenarnya berlawanan dengan kode etik mereka dimana seharusnya hukum dijunjung tinggi. Cukup sepele sebenarnya. Sebut saja memalsukan tanda tangan untuk Laporan Semester Perusahaan PMA, klien mereka, ke Badan Koordinasi Penanaman Modal, mengganti ijasah seseorang yang semula menempuh pendidikan di Asia dengan ijasah keluaran Eropa untuk pengurusan KITA’s dan ijin bekerja di Indonesia, penyerahan uang terima kasih ke pejabat pemerintahan untuk pengurusan dokumen, dan sebagainya.
Ketika ia bertanya kepada atasannya, ia memperoleh jawaban bahwa sebenarnya semua itu melanggar hukum meski kadarnya berbeda-beda. Pemalsuan tanda tangan, misalnya, masih bisa ditolerir sebatas diketahui oleh PMA yang bersangkutan, toh, tak ada pihak yang dirugikan. Sedangkan untuk uang terima kasih, ia mendapat jawaban bahwa itu sudah menjadi kebiasaan dan susah untuk dihindari.
Tentu jawaban-jawaban tersebut sangat tidak memuaskan, baik untuk orang yang bertanya maupun orang yang masih mau memikirkan nasib orang lain di sekelilingnya yang tidak mampu di bidang ekonomi. Karena jika dirunut benang merahnya, pelanggaran-pelanggaran seperti tadi secara tidak langsung akan merugikan rakyat Indonesia pada umumnya.
Terkait contoh di atas, kita bisa maklum jika pelaporan ke BKPM dikerjakan oleh kantor Lawyer yang memberikan layanan jasa secretarial sebatas informasi yang diperoleh dari PMA telah sesuai dengan kondisi sebenarnya. Mengingat biasanya PMA menyerahkan sepenuhnya kepada penyedia jasa untuk mengurus pelaporan. Sedangkan penyedia jasa, karena tak mau repot dan berpikir segera memperoleh fee, akan mengerjakan laporan tersebut secara asal tanpa mau tahu apakah sesuai dengan realita atau tidak. Plus pemalsuan tanda tangan dari penanggung jawab PMA selaku pemberi laporan ke pemerintah (BKPM) dengan alas an tempatnya jauh.
Jawaban yang dipaparkan oleh atasan orang tadi sebenarnya memberikan sebuah tanda tanya besar. Mengapa ia menjawab tidak ada yang dirugikan? Jika hanya diihat dari segi penyedia layanan dan PMA yang bersangkutan, tentu saja hal tersebut tidak menjadi masalah. Tetapi ketika dikaitkan dengan system yang lebih besar, yaitu Negara, maka mau tak mau akan menimbulkan dampak negative.
Pelaporan posisi modal terakhir, yang menjadi salah satu item pelaporan, yang tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya bisa jadi mengurangi pemasukan Negara dari sektor pajak karena besar kemungkinannya modal yang dimiliki PMA mengalami kenaikan selama proses produksi. Dan siapa yang lebih dirugikan ketika pajak Negara tidak dibayarkan jika bukan rakyat?
Rakyat disini menduduki posisi yang sangat lemah. Dalam bahasa umum, rakyat adalah setiap orang yang bertempat tinggal dan bekerja di suatu wilayah serta telah menjadi penduduk setempat dengan memiliki hak dan kewajiban. Ketika dipersempit lagi dengan konteks Negara Indonesia, yang menjadi rakyat Indonesia adalah setiap orang yang bertempat tinggal, bekerja, dan menjadi warga Negara Indonesia, termasuk para penyedia jasa tadi. Dan berarti pula bahwa para penyedia jasa tadi sebenarnya menjerumuskan diri mereka sendiri ke jurang kehancuran, walau tanpa mereka sadari dan dampaknya belum tentu dapat dirasakan dalam waktu dekat.
Contoh-contoh kasus di atas juga sangat merugikan rakyat Indonesia di bidang perekonomian dimana angka pengangguran tak mau merangkak dari angka 10 juta. Seharusnya lapangan pekerjaan yang dituju klien kantor advokad tadi bisa diduduki oleh warga Negara Indonesia sendiri yang kualifikasinya belum tentu lebih rendah dari tenaga kerja asing.
Ironis memang. Indonesia yang dikatakan gemah ripah loh jinawi, kaya akan sumber daya tetapi tidak bisa mensejahterakan rakyatnya. Sebagian kekayaan alamnya malah dinikmati oleh investor-investor asing yang pada awalnya menjanjikan harapan peningkatan kehidupan masyarakat meski harapan itu jarang mereka penuhi, kecuali dampak negative seperti contoh kecil yang dialami warga sekitar lokasi PT Freeport dan Teluk Buyat.
Tulisan ini tidak semata menyoroti bidang hukum yang ternyata banyak dilecehkan oleh orang-orang yang berkecimpung di dalamnya atau hanya menyoal banyaknya PMA yang kurang bertanggung jawab terhadap masyarakat yang sumber dayanya dimanfaatkan. Namun lebih cenderung menyoroti persoalan amoral yang banyak dilakukan oleh orang-orang Indonesia sendiri, baik sadar atau pun tidak.
Saat ditarik kesimpulan dari kejahatan-kejahatan yang dilakukan oleh kalangan berdasi, baik pegawai pemerintah maupun swasta atau pun masyarakat biasa lainnya, seperti pemalsuan-pemalsuan di atas disebabkan karena propaganda budaya hedonis dari barat yang hanya memikirkan kenikmatan dunia tanpa mau memperhatikan sisi-sisi buruk yang bakal ditimbulkan. Kenikmatan dunia tentu saja tidak bisa diperoleh begitu saja tanpa uang dan untuk memperolehnya dalam waktu singkat, penipuan, pemalsuan, dan sejenisnya menjadi alternative pilihan.
Maka tak heran ketika di media massa membicarakan masalah KKN dan penipuan-penipuan lain terhadap rakyat. Kasus terakhir yang diekspos besar-besaran adalah masalah korupsi di Departemen Kelautan dan Perikanan yang dananya dikatakan disebar ke segala penjuru mata angin, mulai dari pejabat Negara, politisi, partai politik sampai rakyat biasa.
Itu hanya satu contoh di samping penggelapan dana abadi umat yang terjadi di lingkungan departemen agama dan contoh-contoh lain. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah : Kok bisa, korupsi terjadi di Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam dan menjadi Negara berpenduduk muslim terbesar di dunia? Bukankah seharusnya dengan ikatan agama tersebut ditambah lagi dengan adat ketimuran yang menjunjung sopan santun, kesusilaan, dan moral sebagai sesuatu yang agung, orang-orang Indonesia lebih berhati-hati untuk melakukan kejahatan-kejahatan yang merugikan diri sendiri,orang lain dan Negara?
Namun realita yang terjadi berlawanan dengan yang seharusnya. Barangkali adat ketimuran yang katanya sangat dijunjung tadi hanya ungkapan kaum utopis yang berusaha mengingkari kenyataan yang terjadi. Terbukti Indonesia dinobatkan menjadi salah satu Negara terkorup di dunia.
Hukum bisa dipermainan dengan mudahnya oleh kalangan berduit. Penjahat kelas kakap bebas melenggang di luar bui setelah membayar uang tebusan. Orang-orang berduit ini bisa dengan mudah membeli hukum dan bersembunyi di bawah ketiak hukum dan aparatnya. Pada akhirnya mereka tidak merasa takut untuk melakukan suatu kejahatan besar. Lantas bagaimana dengan nasib rakyat kecil yang sebenarnya tidak bersalah namun karena hukum telah dibeli oleh kaum borjuis, sehingga kaum papa ini menjadi lebih tertindas.
Sebenarnya semenjak lahir, manusia telah dianugerahi hati nurani oleh Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai alat control internal yang mampu membedakan mana yang baik dan boleh dilakukan serta yang tidak boleh dilakukan. Sayangnya akhir-akhir ini, hati nurani menjadi tidak berfungsi. Kedudukannya bergeser digantikan oleh uang dan kroni-kroninya. Akibatnya manusia tidak bisa berpikir jernih dan tak bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk. Nilai-nilai moral yang banyak bersinggungan dengan hati nurani menjadi sangat terabaikan dan muncullah tindakan-tindakan tidak terpuji seperti KKN, penipuan, pemalsuan dan lain sebagainya.
Selain Negara-negara yang pernah menjajah Indonesia dulu, sebenarnya kita juga memiliki andil atas keberlangsungan tindak kejahatan yang sama sekali tidak bermoral itu. Selama ini tak banyak orang yang mau melawan dan mendobrak system tinggalan colonial tadi. Sebagian besar membiarkan bahkan memberikan tarikan-tarikan liar yang dipungut oleh pegawai pemerintahan seperti uang terima kasih tadi. Sadar atau tidak, uang itu tidak layak diterima sebab oknum-oknum tadi telah digaji tersendiri untuk melakukan tugas-tugas melayani rakyat yang dananya diambilkan dari pajak Negara.
Bahkan kemudian masyarakat seperti memberi permakluman terhadap sikap amoral yang terjadi. Mereka bersikap apatis dan hanya berpikir supaya urusan mereka segera selesai dengan membayar uang sekian rupiah tanpa berpikir bahwa mereka juga memiliki peranan besar terhadap menurunnya kualitas SDM dan tingkat penghidupan di Indonesia.
Korupsi, kolusi, nepotisme buta, penipuan, pemalsuan dan tindak amoral lain seakan telah menjelma sebaga sebuah rantai setan yang sulit untuk dimusnahkan hanya dengan mengandalkan beberapa institusi seperti Komisi Pemberantasan Korupsi, ICW, Kehakiman, Kejaksaan, dan sejenisnya. Kita juga tahu bahwa Departemen terakhir yang disebutkan di atas malah seperti melegalkan tindak amoral tersebut. Terbukti tingkat korupsi yang terjadi di Departemen Kehakiman dan HAM menduduki peringkat tertinggi dimana kasus suap menyuap menjadi rahasia umum dan sudah biasa. Bahkan berkembang pula di kalangan masyarakat seloroh tentang praktisi hukum “Maju Tak Gentar Membela yang Bayar”. Putusan benar atau salah seakan bermuara pada besar kecilnya uang yang disetorkan pada oknum-oknum di institusi terkait.
Untuk itulah diperlukan peran serta setiap elemen masyarakat untuk memutus rantai setan budaya amoral tadi sehingga permasalahan bangsa tidak lagi berkutat di persoalan KKN. Setiap elemen harus mampu berkata tidak setiap kali diajak untuk melakukan kejahatan amoral meski dengan iming-iming imbalan besar. Namun pertanyaan terakhir yang belum bisa dijawab adalah : Mampukah masing-masing dari kita memiliki nurani dan moral yang kuat untuk menolak iming-iming yang diberikan?
3.19.2009
Duh Gusti, Tolong Jangan Jerumuskan Dia
Beberapa hari lalu ada yang bilang tulisanku jadi sumber inspirasinya. What??! Nggak salah tu??!
Tapi bener deh ada yang bilang seperti itu. Aku aja kaget mendengarnya? Aku? Tulisanku? Wah..nggak salah tu? Tulisan acak kadul seperti itu? Weleh-weleh.
Duh Gusti, tolong jangan jerumuskan dia. (hwakakakak). Lha gimana lagi coba? Temanku bilang kalau aku mirip pemabuk. Tulisannya nggak jelas. Sama seperti orangnya. Masa dijadikan sumber inspirasi? (geleng-geleng sendiri)
3.12.2009
Micky Mouse
Penggambaran tikus sebagai Micky Mouse sungguh menggemaskan. Binatang pengerat itu berubah menjadi makhluk lucu dan menyenangkan, plus penggambarannya dengan karakter yang selalu baik hati, suka menolong, rajin menabung, suka membantu orang tua, dan masih banyak hal mulia lain seperti yang tercantum di pembukaan UUD 1945 serta Dasa Darma Pramuka.
Namun di sebalik itu semua, ada perihal yang awak tak suka dari tikus sebagai pribadi tikus itu sendiri. Dulu, ketika aku masih kecil, si manis – kucing kesayanganku yang sering kutangisi tiap kali belum balik waktu adzan magrib berkumandang (walah! Haha. Padahal si Manis lagi pacaran. ‘Nggak mau lah yaw pulang cepet-cepet!’, katanya) seringkali membawa pulang hasil buruannya dari atap rumah. Apa lagi kalau bukan mas Tiktik alias tikus. Kadang masih hidup dan ia dengan sok imut main kejar-kejaran dengan mas Tiktik di dekat tempatku belajar. Kaget lah tiba-tiba ada yang nyruntul (apa ya bahasa Indonesia-nya yang pas?) ke arahku. Terkadang mas Tiktik yang diajak pulang ke rumah sudah mati. Tikus gemuk (bisa masih utuh atau Cuma tersisa separuh badan dengan darah), hitam, mata melotot, diam membeku. Hiii….
Masih erat hubungannya dengan mas Tiktik, tadi pagi sewaktu mau merendam cucian, terkaget-kaget aku melihat tikus diam membeku itu di belakang kamar. Untungnya masih utuh. Tapi sontak saja aku terloncat kembali ke dalam. Mataku yang tadinya masih kriyip-kriyip langsug terbuka. Seperti habis melihat momok menakutkan. (emang momok!)
Mondar-mandir aku di dalam kamar sendirian. Mau membangunkan tetangga, e belum ada pintu kamar yang terbuka. Lagipula belum tentu juga ada yang berani. Perempuan semua euy!
Setelah membaca, mendengar, menimbang dan memutuskan, akhirnya kulihat ada serok sampah dan sapu lidi di halaman depan. Ting! Kuambil bangkai mas Tiktik dengan peralatan itu pelan-pelan. Pakai alat kok ya masih agak gimana gitu ya rasanya. Hiii… Tapi nggak bisa seperti ini terus deh. Mau minta tolong sama siapa lagi kalau bukan aku sendiri yang melakukan? Iya to?
Tikus sudah di serok, berlari aku menembus rimbun dedaunan. Tak peduli pada ranting-ranting dan duri yang mencabikku. (wualah!) hingga sampailah pada tempat pembuangan terakhir. Wuah lega!! Akhirnya…
Kesimpulan hari ini : jangan takut sama tikus! Masih ada serok sampah dan sapu lidi!
3.10.2009
Janji
dengarlah semua!
jika aku jadi wakil nanti
kujanjikan setiap perut terisi nasi
sekolah tak lagi sekedar mimpi
berobat bukan pula masalah gawat
kujanjikan makmur sentosa
damai, aman, sejahtera
maka pilihlah aku!
agar kalian tak lagi kelaparan
anak-anak kalian tak lagi dibodohkan
kan kubangun negeri
kubasmi korupsi
ayo pilihlah aku!
kujamin ijasahku asli
bukan hasil jual beli
(tapi aku bohong)
Sekotak Mimpi (Lagi)

Setiap tempat tentunya memiliki ciri khas masing-masing. Punya gaya, pesona, adat istiadat dan beragam keunikan sendiri-sendiri. Dengan penghuni yang memiliki karakter berbeda pula. Sepertinya menyenangkan bisa menatap, menyentuh, mengecap, menikmati dan berinteraksi dengan setiap elemen yang berbeda-beda itu.
Bermimpi merasakan hembus angin dari penjuru yang berbeda. Melihat birunya langit dari belahan bumi yang tak sama. Merasakan mentari dari sudut berlainan. Menyentuh tetes hujan, gemerlap embun di ujung dedaunan dan bulir-bulir salju dengan tangan terbuka. Mendengar kecipak air di genangan bening. Mengikuti alun ilalang dan pinus yang bergoyang. Menyaksikan mekar bunga dari kuncupnya. Atau barangkali merasakan luka goresan kerikil dari tempat yang tak sama.
Bermimpi mengunjungi tempat yang berbeda-beda. Mengikuti angin dan langkah kaki. Menuju kota dan dusun yang sama sekali asing. Berlajar dari setiap individu, merasakan sari pati kehidupan. Belajar memahami dari setiap interaksi. Menimba ilmu dari para ahli, menaburnya ke segala penjuru dan biarkannya terserak diterbangkan angin.
Ada banyak pelajaran dari setiap pepohonan, setiap butir kerikil, bebatuan, dan setiap elemen alam. Begitu pun ada banyak pembelajaran dari setiap kepribadian dan perbedaan.
Satu lagi keinginan tersimpan di kotak mimpi. Tak akan terbuang melainkan ditimang, dirawat hingga besar hingga menjadi pendorong, penyemangat untuk meraihnya. Suatu saat…
Menikmati Hujan Turun
menikmati hujan turun
……………..
terkenang aroma kopi buatan ibu
terkenang seruput senyum bapak
terkenang nyala api di tungku
terkenang ubi berbalut abu
terkenang atap-atap bocor
titik-titik air di muka bumi
titik-titik rindu di kalbu
seruak aroma tanah
seruak aroma sayang
tawa-tawa di depan tungku
dingin sepi hilang sudah
menikmati hujan turun
.....................
terpaku rindu....
3.07.2009
Ada Cinta di Waturenggong

Ada satu hal yang sering kulakukan ketika melintasi jalan Waturenggong. Kebanyakan orang yang lewat tak pernah memperhatikannya karena harus memusatkan konsentrasi pada padatnya lalu lintas di jalan tersebut.
Satu hal atau sebutlah ‘sesuatu’ yang seringkali mengusikku. Barangkali biasa saja menurut orang lain. Tapi biarlah, aku bisa memahami apa yang mereka pikirkan. Setiap kepala punya otak masing-masing dan setiap pribadi memiliki pemikiran sendiri-sendiri bukan?
Berdiri kokoh. Menjulang tinggi sebuah pohon besar. Sepertinya pohon beringin (tapi aku tak yakin). Menaungi areal pekuburan saudara kita, penganut agama Hindu. Tanah dan jalanan di bawahnya menjadi teduh dalam naungannya setiap kali sang surya menyengat ganas. Jika malam tiba, suasananya agak sedikit menyeramkan karena pengaruh areal sekitarnya.
Tapi bukan itu semua yang menarik perhatianku melainkan wujudnya ketika kudongakkan kepala. Pohon itu tampak menawan. Kulihat pucuk-pucuknya yang menghijau tatkala musim penghujan tiba. Juga ujung dahan yang meranggas saat kemarau menyapa.
Ia semakin rupawan ketika berpadu dengan birunya langit, lengkap dengan awan cemerlang. Pun kian mempesona tatkala mendung dan hujan menghiasi langitnya. Pohon itu seakan bicara sesuatu padaku. Tentang kekuatan yang harus dipertahankan hingga senantiasa bisa bersatu dengan semilir angin serta mampu berdiri tegak, kokoh saat badai menghantam.
Setiap kali kutatap ujung-ujungnya di atap langit, ada getar kekuatan yang mulai melingkupiku. Mengajakku terus bertahan saat kudapati penghalang, membuatku kembali bangkit meski harus memulai segala sesuatunya dari nol serta merangkak tertatih-tatih hingga aku bisa berjalan dan berlari seperti sedia kala.
Dan ketika kutatap keberadaannya berpadu dengan langit, ada damai menyeruak. Membuncah di dada, serasa mau pecah. Mereka bicara tentang keluasan hati. Hidup selalu bergolak, kadangkala membuat pening kepala. Namun masih bisa dihadapi dengan lapang dada bukan?
(Lebai banget nggak sih tulisanku?? Qqq)
3.04.2009
Batu Gambir, Kampung Muslim Terpencil di Bali
Apa sih yang muncul di benak orang ketika mendengar “Bali” disebut? Hmm..sudah pasti keindahannya, keunikan budayanya, tempat wisata, dan segala sesuatu yang berbau gemerlap dunia wisata. Sanur, Kuta, Bedugul, Nusa Dua, Ubud, dan lain-lain yang nota bene merupakan icon pariwisata di Bali.
Tapi pernah nggak sih ada yang berpikir bagaimana dengan daerah selain icon-icon tersebut? Kalau saja ada yang sempat berpikir seperti itu atau mungkin melihatnya secara langsung, barangkali paradigma seperti di atas akan menipis.
Beberapa waktu lalu, saya memimpin sebuah ekspedisi menyusuri kampung-kampung muslim di pelosok Bali untuk melakukan pemetaan dhuafa yang diadakan oleh sebuah lembaga amil zakat terbesar di pulau Dewata. Tau sendiri lah kalau Bali itu memang dihuni oleh mayoritas saudara kita yang beragama Hindu. Ternyata ada lho saudara muslim kita yang tinggal di Bali secara berkelompok di tempat yang bisa dikatakan sangat terpencil. Hah?? Masa sih??
Salah satu tempat yang saya kunjungi bersama empat tim akhwat saya adalah kampung muslim Batu Gambir. Terletak di wilayah kabupaten Buleleng. Sekitar 4 jam perjalanan dari kota Denpasar. Tetapi waktu itu saya tidak mengambil starting point dari Denpasar, melainkan dari Singaraja, ibu kota kabupaten Buleleng, dimana saya menginap di salah satu rumah penduduk, diantara rentetan ekspedisi saya yang ketika itu berlangsung selama 3 bulan.
Untuk memasuki kampung Batu Gambir, saya bersama tim harus melewati jalan, yang meskipun beraspal, namun tanjakan dan tikungannya, subhanallah, sangatlah curam, lebih dari 45o. Beberapa kali kami harus menahan nafas karena tegang. Berharap supaya “Si Merah Hati”, mobil yang membawa kami kuat sampai di puncaknya.
Memasuki pintu gerbang kampung tersebut, kami disambut hujan deras disertai angin. Payung yang kami bawa tak sanggup menjaga baju kami agar tetap kering. Tetapi senyum para warga mampu menghangatan suasana. Kami disambut dengan ramah dan dipersilahkan untuk berteduh di rumah salah satu warga.
Sekitar setengah jam kemudian, kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Hujan belum juga berhenti. Apa mau dikata, kami harus menerobosnya atau kami hanya akan mendapatkan kelelahan semata.
Dengan menggunakan payung dan jas hujan seadanya, kami mulai menuruni jalanan kampung. Jangan dikira jalannya beraspal seperti tadi. Malah yang kami lewati adalah jalan setapak menembus ladang jagung dan perkebunan rakyat sejauh kurang lebih 1,5 km. Hujan membuat jalanan tersebut becek, licin dan berlumpur. Kami harus ekstra hati-hati karena beberapa kali terpeleset dan meluncur ke bawah. Baju basah dan belepotan lumpur tak lagi kami hiraukan.
Tempat yang kami tuju pertama kali adalah sebuah masjid yang belum selesai pengerjaannya. Sampai sekarang pun warga setempat masih mencari donasi untuk penyelesaiannya. Ketika kami sampai, warga bergegas berdatangan dengan tingah polos mereka. Busana muslim paling bagus dan rapi, meskipun sederhana sengaja dipakai untuk menghormati kami.
Awalnya kami sungkan untuk masuk ke dalam ketika dipersilahkan. Mengingat keadaan kami yang hanya akan membuat kotor seluruh masjid. Namun lagi-lagi senyum tulus mereka mencairkan suasana. Kami tak ragu lagi dengan keramahan mereka dan mulai berbincang-bincang sambil duduk di dalam masjid. Makanan tradisional ala Batu Gambir pun disuguhkan. Kami serasa dianggap sebagai tamu kehormatan dengan jamuan yang mereka sediakan. Malu-malu tapi mau. Hehehe...
Merasa cukup beristirahat sejenak dan mengumpulkan tenaga, kami pun mulai mendata warga kampung Batu Gambir. Kami berlima berpencar menuju ke rumah-rumah yang letaknya saling berjauhan dengan diantar beberapa warga. Lagi-lagi harus berjalan kaki.
Warga kampung Batu Gambir sebagian besar berada di bawah garis kemiskinan. Mereka sebagian besar bekerja sebagai petani penggarap di ladang atau kebun yang di sebagian tanahnya mereka dirikan rumah sederhana untuk mereka tinggali. Tentu saja setelah mendapat ijin dari pemilik tanah. Sebagian besar rumah terbuat dari bilik bambu dan beratap rumbia dan tanpa penyekat antara ruangan satu dengan lainnya. Ini merupakan cara terhemat agar ketika mereka “diusir” oleh pemilik tanah nanti, mereka tidak terlalu merisaukan rumah sederhana mereka.
Hanya 15% penduduknya yang memiliki tanah sendiri. Mereka yang beruntung ini membangun rumah berdinding batu bata buatan sendiri yang prosesnya tidak melalui pembakaran tetapi hanya dikeringkan di bawah sinar matahari. Bahan perekatnya pun bukan semen melainkan tanah liat halus dicampur dengan air.
Rata-rata penduduk tidak memiliki sumber air sendiri sehingga penduduk harus antri mengambil air di pemandian umum di dekat masjid yang cukup jauh dari pemukiman masing-masing. Apalagi jika musim kemarau melanda, tiap-tiap rumah hanya mendapat jatah dua ember setiap harinya dan harus antri sampai tengah malam. Kamar mandi pun seadanya hanya bilik kecil di sebelah rumah yang ditutupi lembaran-lembaran karung dan dilengkapi sebuah bak mandi.
Seperti dikemukakan di atas, warga desa kebanyakan adalah petani penggarap dengan bagi hasil 2:1. Maksudnya adalah 2 bagian dari setiap panenan merupakan hak pemilik tanah dan 1 bagian lagi menjadi milik petani. Itu pun belum termasuk biaya selama masa tanam yang harus ditanggung sendiri oleh petani.
Mereka diberi kebebasan untuk menanami kebun tersebut. Hasilnya bisa untuk mencukupi kebutuhan makan sehari-hari dimana makanan pokok mereka berupa singkong dicampur beras, jika ada. Hasil kebun yang lain dijual ke pasar dengan harga yang sangat murah. Tidak sesuai dengan kerja keras selama membawa panenan tersebut ke pasar.
Karena berada di daerah terpencil, kesehatan menjadi kendala besar di desa ini. Ketika ada yang sakit parah dan harus segera dirawat ke rumah sakit atau orang akan melahirkan, biasanya si sakit akan ditandu menyusuri jalan setapak naik turun. Medan yang berat semakin menambah kesulitan ketika menangani si sakit hingga pernah terjadi orang yang sakit meninggal di perjalanan atau mengalami koma karena kehabisan darah. Bisa dibayangkan betapa susahnya tinggal di sana.
Masalah lain adalah ketidakmampuan masyarakat untuk membayar biaya berobat. Mereka seringkali harus hutang pada puskesmas atau dokter yang didatangi. Kebanyakan dari mereka tidak mendapat kartu sehat untuk berobat gratis dari pemerintah atau jika punya biasanya ditolak oleh tenaga medis dengan alasan tidak terdaftar. Kami sempat dibuat sedih dan berpikir juga ketika itu ada salah seorang warga yang sudah memasuki masa melahirkan. Sementara rumahnya jauh dari tetangga dan ia pun sedang tidak didampingi oleh sang suami. Tapi apa boleh buat. Kami pun tidak mempunyai solusi yang pas untuk mereka.
Pendataan selesai, kami kembali berkumpul di masjid tadi. Masjid ini merupakan hasil pembangunan swadaya masyarakat dimana seluruh KK dimintai sumbangan baik dana maupun tenaga untuk pengerjaannya. Baik lelaki maupun perempuan gotong rotong mendirikan sarana ibadah tersebut. Mulai dari pembukaan tanah sampai ke tahap pembangunannya. Tinggal sentuhan akhir berupa corong untuk menyiarkan ketika adzan berkumandang dan juga aliran listrik yang sangat minim di desa ini. Untuk keperluan masjid di bawah, warga harus menyalur listrik dari atas. Sampai di bawah, arus listrik tinggal 5 watt karena termakan oleh panjangnya beban kabel. Sedangkan untuk masyarakat sendiri, setiap malamnya menggunakan lampu minyak untuk penerangan.
Ada yang membuat kami terenyuh sekaligus sangat bersyukur terhadap setiap nikmat Allah yang diberikan. Kami lebih beruntung dari mereka karena hampir setiap kebutuhan kami tersedia di kota, meskipun kadang-kadang tak ada uang untuk membelinya. (Hehehe...) Dari mereka pula kami belajar untuk terus berjuang tanpa kenal putus asa demi sebuah kemajuan. Setiap senyuman dan keikhlasan dalam menghadapi sebuah kesulitan akan memberikan kekuatan tersendiri.
Hari pun beranjak sore. Kami harus segera melanjutkan perjalanan ke kampung berikutnya. Doa tulus dari mereka terdengar sedemikian indahnya di telinga kami. rangkaian doa balasan pun kami panjatkan semoga mereka mendapatkan penghidupan yang lebih layak di kemudian hari atau paling tidak mendapat kebahagiaan dalam menjalani hari-hari. Dan semoga saya bersama tim kuat untuk berjalan kaki kembali ke atas menuju “Si Merah Hati”. Heh...heh..heh..capek...
Posted on Annida, August 2007
Capucini oh Capucini

Dulu, sewaktu mbak Ita, kakak pertamaku, masih duduk di bangku SMA, ia pernah bercerita kepada adik-adiknya, termasuk aku. Ceritanya tentang Capucini yang biasanya ia nikmati saat nonton bioskop di kota kelahiranku bersama cowoknya yang singkek cakep itu.
Tau nggak sih Capucini itu apaan? Dulu sih, kata mbak Ita, Capucini itu minuman dalam kotak. Seperti kemasan Gogo atau teh kotak Tetrajaya. Bedanya, yang kutangkap waktu itu, ada rasa coklat pada Capucini. Tentu saja aku belum kenal minuman sejenis semisal susu ultra yang rasa coklat sehingga aku tak bisa membayangkan seperti apa rasanya coklat cair. Yang kutahu ya coklat batangan. Itupun yang paling sering dimakan coklat cap jago, yang sekarang harganya limaratus rupiah, atau paling banter silverqueen, kado ultah dari mbak Ita saat aku ulang tahun.
Barangkali karena gaya bercerita kakakku yang satu itu sangat meyakinkan hingga cerita itu langsung terekam di benakku yang baru SD. Tentang rasanya yang enak. Tentang nikmatnya ketika diminum dingin, bla bla bla. Duh jadi penasaran benar. Namun Capucini itu tak pernah kudapatkan.
Setelah sekian lama mengendap di alam fantasiku, rupanya rasa penasaran itu masih ada. Tersimpan rapi dalam salah satu kotak mimpi yang tiba-tiba terbuka kembali semalam. Ceritanya tadi malam, kurasakan agak nggak enak badan. Biasa deh, seperti mo ngedrop lagi. Daripada ngedrop beneran, kupaksa keluar mencari suplemen sekalian cari susu cair di Tiara Dewata. Sekitar jam sembilan malam (menurut struknya sih jam 9:14 aku bayar di kasirnya), muter-muter akhirnya dapat juga. Pas lagi milih-milih susu cair ni, biasa lah cari yang…murah (bisik-bisik, maklum harus hemat), tiba-tiba mataku tertumbuk pada kemasan kotak ramping warna coklat dominan bertuliskan Capucini. Aha, ini dia!!! Akhirnya dapat juga.
Ada tiga macam rasa, coklat, coffee cream, dan capucino (klo nggak salah). Kubaca ingredient-nya. Eh ada susunya juga! Akhirnya kuputuskan membeli ‘susu’ kotak ini. Kupilih rasa coklat, seperti yang selama ini kuinginkan dan coffee cream. Sesampai di kos, langsung kumasukkan kulkas. Dingin lebih enak katanya (hehehe).
Paginya, setelah sarapan sup tofu panas yang baru kubuat, cepat-cepat deh kukeluarkan si kotak coklat itu dari kulkas, kupandangi sebentar, senyum dikit, trus diminum.
Cep..cep..cep… Kok rasanya…dominan kopi. Kulihat lagi kemasanya, kubaca. Ternyata o ternyata tertulis ‘Minuman Kopi Coklat’. Pantesan!
Kuambil HP, kuketik beberapa kalimat. ‘Mbak, akhirnya aku minum Capucini. Penasaran banget setelah mbak Ita dulu cerita. Ternyata kopi ya’. Lalu pencet send. Mbak Ita ketawa ngakak waktu menelponku dan tau kalau selama ini aku masih menyimpan rasa penasaran yang dalam.
Meskipun kopi dan bukan susu coklat seperti yang kubayangkan, kuhabiskan juga Capucini Coklat pertamaku. Sekarang, kopinya mulai bereaksi. Alamat nggak bisa ngapa-ngapain sampai beberapa jam ke depan deh sampai jantungku bisa adaptasi. Capucini oh Capucini, ternyata kopi. Ealah, katrok banget!
3.03.2009
Lady Yakult
Pernah lihat lady yakult nggak? Itu lho yang biasanya naik sepeda dayung nawarin yakult dari rumah ke rumah, pake seragam kotak-kotak ijo, pake topi kotak-kotak ijo juga.
Setiap kali melihat salah satu dari mereka melintas, kok aku penasaran pengen ngrasain ya. Maksudnya, pengen tau rasanya jadi lady yakult gitoo. Sepertinya asyik banget. Kemana-mana naik sepeda. Teriak-teriak nawarin dagangan. Bisa ketemu banyak orang, ngobrol ngalor ngidul sambil belajar kepribadian orang. Keren banget kan?
Cuma ya gitu deh. Lagi-lagi aku mesti mikir. Klo aku sih asyik-asyik aja tapi menurut orang-orang di sekitarku gimana? Sarjana kok kerjaannya seperti itu. Lah.. apa hubungannya sarjana ato bukan. Ok aku bisa ngerti klo lulusan perguruan tinggi diharapkan bisa dapat kerjaan yang lumayan enak lah. Nggak harus susah-susah ngayuh sepeda, badan gosong terbakar mentari, bla bla bla...
Aneh kata orang. Tapi kalo aku suka yang aneh-aneh trus mau apa? emangnya sarjana itu njamin punya skill yang bagus?? (tapi ini bukan alasanku lo. hehehe)
Namanya juga orang yang anti kemapanan. pengen tau aja sesuatu yang menantang. kalo jadi tukang ojek pernah, loper majalah pernah, jualan pernah, guide pernah, ... jadi nggak apa2 kan klo akhirnya pengen jadi lady yakult?
dari pada petentang petenteng banggain ijazah, nglamar sana-sini tapi nggak pernah diterima gara2 nggak punya kemampuan mending punya kemampuan tapi nggak mentang2 (cieee!! memangnya seprti itu? qqq)
Nglamar kerjaan, diterima trus kita tolak tu rasanya uenaak tau! puas banget! hehehe. Bukan cuma bos aja yang bisa nolak kita tapi kita juga bisa nolak bos. Mau bos atau bawahan lek sama aja manusia to?
3.02.2009
Serba Salah
kuputuskan tak temuimu pagi tadi
tak juga ada alasan kenapa
ku yakin kau tahu
ku enggan melihatmu
barangkali waktu bisa membantu
jeda bisa bicara
aku, kau, kita bisa berkaca
dari jejak-jejak yang mulai membatu
supaya kau tak lagi arogan
dengan semua yang ada padamu
dan ku bisa lampiaskan geram
agar hati ini tak jadi beku
kuputuskan tak temuimu tadi pagi
sayangnya kau malah berulah
kau semat rasa bersalah
kau bilang aku si munafik janji
Bukan Malaikat
Ciittt!!!
Derit rem kendaraan yang ditekan kuat tiba-tiba. Kalila menghentikan motornya, yang sedari tadi dipacu entang tanpa arah pasti , tak jauh dari sebuah rumah.
Ia tak segera masuk ke dalam rumah itu. Kalila masih duduk mematung di atas jok motor kesayangannya. Bimbang. Bingung menentukan sikap antara masuk ke dalam rumah bercat putih tersebut kemudian menyapa penghuninya, seperti yang biasa ia lakukan, ataukah memutar motornya menjauhi tempat itu dan memacunya tanpa arah kembali.
Ada raut sedih di wajah manisnya. Tak seperti Kalila biasanya yang selalu terlihat cerah, selalu tersungging senyum di sudut bibirnya. Senyum itu hilang entah kemana. Mungkin dicuri bulan bintit di kaki langit. Olala…ada apa dengan Kalila ?
Gadis berlesung pipit itu mendongak ke langit, perlahan dengan mata terpejam.
‘Bismillah’ bibir mungilnya komat-kamit menggumamkan asma Alloh.
Kalila menarik nafas panjang. Kemudian ia hembuskan kuat-kuat. Ujung bibirnya ditarik paksa, membentuk ulas senyum dan ia pun beranjak menuju beranda rumah di depannya.
Seorang gadis berkerudung hitam terlihat sedang duduk di sebuah kursi panjang. Ia tampak kaget melihat kedatangan Kalila yang tiba-tiba, tanpa konfirmasi terlebih dahulu.
‘Assalamualaikum’, sapa Kalila padanya.
‘Wa’alaikumsalam’, meski terkejut, tak urung gadis itu tersenyum menyambut kedatangan Kalila. ‘Mbak Kalil dari mana ?’
‘Dari jalan’, jawab Kalila sambil menghenyakkan pantat di sebelah gadis itu. ‘Gimana kabarmu, dik ? Sehat ?’
‘Alhamdulillah, Dinda baik. Sehat.’, Gadis yang ternyata bernama Dinda itu kembali tersenyum tap tak lama. Sebentar kemudian senyumnya tiba-tiba menghilang. ‘Mbak Kalil mau marah sama Dinda , ya ? ‘, tanyanya hati-hati dengan muka ditekuk, tertunduk.
Kalila menoleh padanya. Tersenyum geli. ‘Lho, memangnya Dinda melakukan kesalahan apa? Kenapa mbak Kalil mesti marah?’ Kalila menghentikan perkataannya, mengelus kepala di depannya itu penuh sayang. ‘Mbak Kalil ke sini karena ingin tahu kabar Dinda.’
Dinda menatap mata Kalila. Mencari kebenaran kata yang barusan didengarnya melalui sorot mata Kalila.
‘Atau...Dinda mau mbak Kalil marah?’ goda Kalila.
‘Jangan! Dinda nggak mau dimarahi mbak Kalil.’, teriak Dinda manja. ‘Beneran nih, nggak marah sama Dinda?’ tanyanya kemudian. ‘kalau mbak Kalil mau marah, marah aja. Dinda pasrah. Lebih baik sekarang daripada nanti....”
Kalila tertawa kecil melihat sikap Dinda, gadis seusia adik kandungnya yang kebetulan berada jauh dari matanya. “Kamu ini...lucu ah. Orang datang baik-baik kok disuruh marah-marah. Ada apa sih, dik?” ditatapnya gadis itu, lekat.
“Mbak Kalil pasti sudah tahu cerita tentangku.”, jawabnya dengan muka kembali tertunduk.
Kalila terdiam. Tak menyahut.
“Ceritaku sudah jadi rahasia umum. Kupikir, tanpa Dinda harus cerita, mbak Kalil sudah bisa menebak yang mana.”
Kalila masih terdiam.
“Mbak Kalil....”
Kalila mendesah pelan, “Oh, yang itu...”. ada getir dari nada suaranya. Mata bulat yang biasanya berseri-seri itu meredup, berkaca-kaca. Genangan air di pelupuk matanya siap meluncur deras tapi ditahannya kuat-kuat.
“Maaf, mbak. Dinda mengecewakanmu.” Dinda membenamkan wajah ke pangkuannya sendiri lalu terisak. “Dinda nggak seperti yang mbak Kalil bayangkan.”
Kalila tersenyum pahit. “Dinda tahu darimana tentang pikiran mbak Kalil? Selama ini mbak Kalil nggak pernah bilang ke Dinda, kan? Juga orang lain.”
Gadis di depannya masih terisak.
“Mbak Kalil nggak punya hak untuk marah sama Dinda. Buat apa?”, lanjut Kalila. Ditolehnya Dinda. “Mbak Kalil nggak mau ikut-ikutan orang lain yang sedang menghakimimu. Toh, siapa mbak Kalil ini? Mbak Kalil bukan Tuhan yang berkuasa menjatuhkan hukuman. Juga bukan malaikat yang tak punya salah. Kita semua pernah melakukan kesalahan, sadar atau tidak. Mbak Kalil ingin menjadi baik seperti orang lain yang baik. Jika Dinda merasa punya salah, apapun itu, ayo kita perbaiki sama-sama.”
“Mbak....”
“Mbak Kalil Cuma ingin menjagamu. Nggak mau terjadi sesuatu yang buruk padamu.” Kalila menghela nafas. “Kita ini orang rantau, dik. Jauh dari keluarga besar masing-masing. Keluarga yang paling dekat di sini adalah teman-teman kita. Itulah mengapa mbak Kalil mengganggapmu seperti saudara mbak Kalil sendiri. Terlebih Dinda juga seiman dengan mbak Kalil. Itu merupakan alasan kuat juga buat mbak Kalil untuk menjagamu.”
Suara jengkerik di sebelah rumah merusak hening. Keduanya sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya sendiri.
“Mbak Kalil dengar berita nggak enak tentangmu.” Suara Kalila memecah diam. Matanya menerawang ke depan.
“Dari siapa, Mbak?” tanya Dinda sembari memainkan ujung jilbabnya. “Lagipula mbak Kalil pernah lihat sendiri orangnya.”
Lagi-lagi suara jengkerik mendominasi suasana. Sesekali terdengar gesekan telapak tangan mengusap kelopak mata. Pelan sekali.
“Kok mbak Kalil jadi sentimentil begini ya?” ucap Kalila dengan tertawa dipaksakan. Ia terkekeh-kekeh garing.
“Ah, mbak Kalil...jangan pura-pura gitu dong. Dinda merasa tambah bersalah nih.”, rengek Dinda dengan pandangan sedih. “Marahin Dinda aja deh. Jangan pakai topeng sedih lagi, ya.”
“Sedih apa? Mbak Kalil nggak sedih. Ini buktinya. Mbak Kalil bisa tersenyum kan?”, Kalila meringis, menunjukkan gigi gingsulnya. Ia berusaha untuk bercanda di depan Dinda meskipun sebenarnya ia tak bisa membohongi hati nuraninya bahwa ia sedang menyimpan kesedihan yang dalam.
“Mbak Kalil juga tidak sedang pakai topeng. Ini kulit asli.”, lanjutnya sambil mengusap-usap wajahnya. “Pegang deh kalau Dinda nggak percaya.” Ia menarik tangan Dinda ke wajahnya.
“Benar kan, kulit asli.” Kalila senyum-senyum.
Kemudian mereka sama-sama terdiam kembali.
“Nama Dinda sekarang jelek di mata orang, mbak. Nggak di kampus, nggak di organisasi, bahkan di pengajian juga. Mereka mempergunjingkan Dinda.”
“Itu resikomu, dik.” Gadis di samping Kalila itu tertunduk. “Keputusan telah kau buat. Mbak Kalil tidak bisa membantu banyak. Lagipula pertanggungjawabannya nanti sendiri-sendiri. Untung rugi dari keputusanmu itu akan kamu rasakan sendiri.” Kalila membetulkan posisi duduknya yang kurang nyaman. “Kenapa kalian nggak menikah aja sih?”
“Masalahnya, bapak ibu belum mengijinkan Dinda nikah sekarang. Mereka ingin Dinda lulus kemudian kerja dulu. Mbak Kalil tahu sendiri kalau Dinda anak tunggal kan. Paling tidak Dinda jadi satu-satunya tumpuan harapan mereka, yang bisa dibanggakan. Mereka tahu hubungan kami ini.”, terangnya panjang.
Suara dengus nafas.
“Ia datang kesini setiap hari, dik?”, tanya Kalila. Matanya tak bergerak dari sebuah motor lelaki yang terparkir di bawah pohon, tak jauh dari tempatnya duduk. “Selalu masuk kamarmu?”
Orang yang ditanya tak menjawab. Menunduk dalam.
“Dimana dia sekarang?”, lanjut Kalila, “Antar mbak Kalil kesana. Mbak Kalil mau bicara sebentar.”
Dinda tetap tak menjawab tapi ia bergerak dari posisinya, mendekati pintu. Menyilakan Kalila yang kemudian mengikuti di belakangnya dengan hati tak karuan.
Seorang pemuda sedang duduk di lantai kamar. Asyik memainkan tombol-tombol keyboard laptop di depannya.
“Assalamamualaikum”, sapa Kalila
Pemuda yang semula tak menyangka Kalila akan masuk ke kamar Dinda itu terkejut. “Waalaikumsalam.”, balasnya. Masih dengan raut muka terperanjat.
Kalila kemudian mencari posisi duduk tak jauh dari daun pintu yang dibiarkannya terbuka. Di sampingnya, Dinda ikut duduk, takut-takut.
“Saya sudah dengar pergunjingan di luar tentang kalian. Barusan, Dinda juga menjelaskan alasannya kenapa kalian tidak menikah saja.”, Kalila berkata dengan suara bergetar. Masih belum bisa mengontrol hati dan emosinya yang carut marut.
Dua orang itu tertunduk bisu mendengar ucapan Kalila.
“Boleh tanya sesuatu?”, lanjutnya kemudian. Pemuda itu mengangguk pelan.
“Kau mencintai Dinda?” Pemuda itu menggangguk. Kepalanya semakin tertunduk.
Kalila menoleh ke arah Dinda, kembali ke pemuda itu. Lalu ia geleng-geleng kepala.
“Jika kau mencintainya, lantas kenapa kau biarkan nama Dinda menjadi cacat di mata orang?”, tanyanya emosi. “Seorang pemuda yang baik akan selalu menjaga kehormatan wanita yang dicintainya. Ia akan selalu menjaga nama baik wanita itu. Ia tak akan membiarkan wanita tersebut menjadi rusak citranya. Ia tak akan melakukan perbuatan yang bisa menimbulkan fitnah bagi si wanita.”
Dada Kalila naik turun menahan marah. “Sebenarnya cintamu itu seperti apa? Sebesar apa? Kamu niatkan untuk apa?!”, Kalila melontarkan pertanyaan bertubi-tubi pada si pemuda yang tak berani menatapnya. “Kalau seperti ini ceritanya, bisa kusimpulkan bahwa cintamu itu Cuma nafsu, bukan cinta tulus. Kamu Cuma menuruti hawa nafsumu semata. Sekarang ini, setan sedang terbahak-bahak menyaksikan kalian. Sadar nggak sih?!”
Emosi Kalila memuncak. Mukanya merah. Pori-pori kulitnya membesar. Ia teramat gusar dengan kelakuan pemuda di depannya itu.
“Memangnya kamu bisa memberikan jaminan bahwa kamu tak akan melakukan perbuatan yang tidak-tidak pada Dinda ketika kalian berada dalam kamar ini berdua?”, tanya Kalila masih dalam nada marah. “yakin benar bisa mengalahkan setan-setan yang selalu membisikimu maksiat?”
Si pemuda semakin mengkerut mendengar pertanyaan Kalila. Sementara Dinda terisak kecil di samping Kalila.
“Kalian berdua adalah aktifis dakwah. Harusnya bisa mengatasi masalah seperti ini.” Sebutir air menetes di pipi Kalila. “Kalian tentunya paham benar hukum dari perbuatan yang sedang kalian lakukan sekarang. Pastinya kalian juga tak lupa ketika Alloh melarang setiap manusia untuk mendekati zina. Apakah kalian yakin bisa mengontrol hati kalian hingga tak melakukan zina sedikit pun termasuk zina hati?”
Kalila mengusap air matanya sambil mengatur suaranya yang bergetar. “Dengan kejadian ini, perbuatan kalian, otomatis nama baik dakwah juga ikut rusak. Apa yang bisa kita banggakan, kita sumbangkan untuk kemajuan Islam jika para pelaku dakwah itu sendiri melakukan maksiat? Bagaimana nasib agama yang katanya Rahmatan lil ‘alamin, rahmat bagi seluruh alam ini selanjutnya...?” gurat kesedihan semakin tergambar jelas di wajah Kalila.
“Sekarang, katakan padaku. Seperti apa cintamu pada Dinda?”, tanya Kalila lemah.
Pemuda itu tak menyahut. Ia masih terpekur. Tak berani menatap Kalila.
Lantas, Kalila menatap Dinda. “Kau mencintai pemuda ini, dik? Inikah pemuda terbaik yang kau inginkan?”
Dinda pun tak menyahut. Bahkan semakin terisak.
Kalila mendekati Dinda. Mengecup kedua pipi Dinda dengan sayang. “Jaga dirimu baik-baik, dik. Dinda berhak menentukan keputusan apapun.”
Kemudian Kalila bangkit dari duduknya. Melangkah gontai ke luar, membawa sedih yang terus berkecamuk. Hatinya remuk redam. “Yaa Robb....”, bisiknya perlahan
Dinda masih terisak dalam kamarnya bersama pemuda yang juga bingung terombang-ambing, labil. Sementara setan-setan terus saja menggoda keduanya, lantas tergelak.
2.28.2009
Lelaki Kecil Itu
Kulihat lelaki kecil itu tadi siang. Sewaktu aku melintas di perempatan besar kotaku. Saat lampu merah dan aku terjebak di antara kendaraan bermotor yang terus mengepulkan asap pekat knalpot. Ditambah lagi sengatan mentari mencubit saraf-saraf di kulit tanganku yang terbuka. Panas dan sumpek!
Kulihat lelaki kecil itu tak sedang menjajakan dagangannya. Ia berdiri termangu di pinggir jalan. Segebok surat kabar harian di tangan kirinya. Tatap matanya kosong. Ada gurat letih di wajahnya yang hitam terbakar matahari. Padahal hari belum beranjak tua.
Kuperhatikan ada yang aneh dari lelaki kecil penjaja Koran itu. Matanya sayu seakan menahan rasa sakit yang teramat sangat. Membuatku bertanya-tanya. Benar sakitkah ia? Sakit apa kira-kira?
Lantas pikiranku memasuki zona tak beraturan. Teringat tentang beribu cerita yang banyak menyertai liku-liku hidup anak jalanan. Himpitan kemiskinan, kebodohan, criminal, narkotika, kasus pelecehan seksual dan kisah-kisah aneh lainnya. Dan pikiran burukku langsung melesat ke arah yang tak kuinginkan. Jangan-jangan…lelaki kecil itu salah satu korban pelecehan seksual.. Sodomi? Pedophilia?
Duh..semoga saja pikiran kotorku tak sesuai kenyataan yang dihadapi lelaki kecil tadi. Kuharap ia memiliki kehidupan yang jauh lebih baik, suatu saat nanti. Tak lagi merasakan derita sebagai anak jalanan.
Hhh…kulihat lelaki kecil itu siang tadi. Umurnya mungkin sekitar empat belas tahun. Usia yang sama ketika kuhabiskan waktu melahap berbagai buku dan pengetahuan di bangku sekolah. Usia yang sama pula saat aku bisa bermanja-manja pada kedua orang tuaku dan tak harus berpikir keras bagaimana cara bertahan hidup hari ini dan esok.
Tak sengaja kulihat lelaki kecil penjaja Koran itu siang tadi dan aku bisa bersyukur bahwa aku tak harus menjalani etape hidup sepertinya, masih bisa makan dua sampai tiga kali sehari, dan masih memiliki orang-orang yang senantiasa mendukungku.
2.27.2009
Addicted
kau beri aku candu
tanda persahabatan, katamu dulu
kutolak
‘ayolah’ paksamu
dan ku telan mentah-mentah
kau beri aku candu
tanda kita berteman, katamu
tak bisa kutolak
ku hisapi asapnya tertahan-tahan
kau punguti hartaku pelan-pelan
kini aku sakaw, kawan
nyeri seluruh sendi
mual, candu itu tak lagi kau beri
ototku serasa ditarik kesana kemari
sakit…
arrghh!!!
aku kecanduan!
dan kau tak lagi anggapku teman
kalang kabut kucari
pada lalu lalang orang
di bawah kaki si asing kugadaikan diri
aku mengemis
di himpit ketiak tengik
aku mau canduku!!
dan kau tergelak melihatku…